Kegiatan Outbound Siswa di Yonif 408 Sragen

Melatih kemandirian anak dengan outbound mampu menstimulasi anak menjadi generasi yang mandiri, tangguh, pemberani, dan kreatif.

Cie ... Cie, dibaca, pingin makai ya ... ???

Salah satu bentuk kegiatan siswa dalam rangka untuk menumbuhkembangkan kreatifitas dan menanamkan karakter cinta lingkungan sejak dini.

Kelompok Kerja Guru Madrasah Ibtidaiyah

KKGMI berorientasi kepada peningkatan kualitas pengetahuan, penguasaan materi, teknik mengajar, interaksi guru dan murid, metode mengajar, dan lain-lain

Kegiatan Menumbuhkan Nilai-nilai Karakter Bangsa

Upacara bendera setiap hari Senin merupakan kegiatan wajib yang harus dilaksanakan oleh seluruh sekolah. Kewajiban ini berdasarkan Permendikbud RI Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti (PBP).

Peringatan Hari Kartini

Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia, pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Selasa, 31 Desember 2019

Ideal System of Living for All Mankind

Islam is derived from Arabic word. It is the religion of God sent to prophet Muhammad. The root word is “slm” which means peace. The root word “slm” becomes the word “aslama” which means to accept and to obey. Therefore, the word “Islam” means real peace and complete acceptance and obedience to the teaching and guidance of God.

Ideal System of Living for All Mankind

Islam is people’s worshipping of God alone, because the most crucial point in Islamic doctrine is the stress on the oneness of God. The worship of anyone other than God is “shirk” or the association in worship, and constitutes a major unpardonable sin.

A Moslem is one who has submitted to the teaching and guidance of God, thus attaining peace of mind and soul. He is obligated to acknowledge and apply the two basic fundamentals: belief, the expression of faith and act, the righteous deed. Both are absolutely necessary for the establishment of one’s faith as a Moslem.

Islam is a complete way of life and provides humanity with the means to lead Moslems towards success and peace both in this life and the life after death. Muhammad, the messenger of God, informed people of the purpose of their creation and existence. He also told them the ultimate destiny and their relationship with other creatures. (AL- ISLAM, An Introduction Guide, Australian Islamic Movement).

Senin, 30 Desember 2019

Kemenag Akan Jalankan Proyek Realizing Education's Promise

Tahun 2020, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) akan menjalankan proyek Realizing Education's Promise (Madrasah Education Quality Reform). Proyek ini merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pengelolaan dan layanan pendidikan madrasah di lingkungan Kemenag.

Proyek ini dilaksanakan dalam waktu lima tahun, dimulai dengan pelaksanaan proyek pada awal tahun 2020 dan berakhir pada tahun 2024. Pelaksanaan proyek didanai oleh Bank Dunia sebesar Rp3,75 Triliun (USD 250 juta).

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, mengatakan dengan dana yang sangat besar, dan mencakup seluruh madrasah di Indonesia, projek ini harus mampu meningkatkan kualitas madrasah.

Kemenag Akan Jalankan Proyek Realizing Education's Promise

“Project ini diharapkan bisa betul-betul berfungsi instrumental dalam meningkatkan kualitas mutu madrasah,” ujar Kamaruddin saat memberikan arahan dalam rapat Implementasi program Realizing Education's Promise, Madrasah Education Quality Reform di Jakarta, Selasa (13/8).

Dikatakan Kamaruddin, dengan dana yang besar, tentunya ada harapan besar yang tertumpu terhadap proyek MEQR. “Ekspektasi kita terhadap proyek ini sangat besar, sehingga kualitasnya harus dipastikan dan dikontrol bersama. Selain itu, pelaksanaannya juga harus berjalan sukses,” ujar Guru Besar UIN Alauddin Makasar.

“Jika proyek ini gagal dan tidak sukses, maka ini tidak hanya kerugian bagi Kemenag, tapi juga bagi Negara. Karena proyek ini dengan anggaran sangat besar,” tegasnya.

Dengan anggaran besar, lanjut Kamaruddin, Ditjen Pendis berkomitmen secara maksimal untuk memastikan bahwa proyek yang akan dijalankan, berjalan sesuai dengan aturan, baik dari sisi kontennya, kualitas belanjanya, sampai pada tatakelolanya dapat berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Berharap kepada World Bank agar bisa mensuport proyek ini secara maksimal. Tidak hanya pendanaannya saja, tetapi juga dari segi pendampingan ahli, agar bisa berjalan maksimal. Dan yang paling penting, semoga proyek ini bisa menjadi proyek yang sustainable,” imbuhnya.

Lead Education Specialist in the World Bank, Tobias Linden, mengatakan bahwa terkait dengan keberlanjutan program, World Bank akan membantu dan mendampingi sertra memastikan bahwa semua system yang dipakai dalam proyek ini dapat berjalan baik dan berkelanjutan.

Menurut Tonias, transformasi pendidikan akan membawa transformasi kepada lembaga dan akhirnya menjadi inisiasi transformasi Negara. “Kita butuh kemampuan numerasi, literasi, dan sains untuk menyongsong masa depan. Apa yang dilaksanakan dalam proyek ini sesungguhnya adalah bagaimana menyiapkan generasi yang siap dengan tantangan abad 21 dan revolusi industry 4.0,” ujarnya.

Program Leader for Human Development World Bank Indonesia, Camilla Holmemo, mengatakan, bahwa proyek ini sangat penting untuk pembangunan sumberdaya manusia (SDM). “Saat ini Indonesia telah banyak mencapai kemajuan diantaranya adalah menurunnya angka stunting, selain itu naiknya layanan akses pendidikan untuk masyarakat,” ujarnya.

Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat KSKK Madrasah, sekaligus ketua pelaksana proyek, Abdullah Faqih, mengatakan bahwa proyek yang akan dijalankan terdiri atas empat komponen proyek yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan sistem pengelolaan pendidikan madrasah.

“Pertama, Pelaksanaan sistem e-RKAM (Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah berbasis elektronik) secara nasional dan pemberian dana bantuan ke madrasah. Kedua, Pelaksanaan Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) untuk siswa kelas 4 MI secara sensus nasional,” terang Faqih.

Ketika, lanjut Faqih, Kebijakan dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan untuk Guru, Kepala, dan Pengawas Madrasah. Dan yang terakhir adalah penguatan sistem untuk mendukung pengembangan kualitas.
Sumber : Situs Kemenag RI

Memahami Jumlah Ayat Alquran

Beberapa ulama memiliki perbedaan cara dalam menghitung ayat Alquran. Paling tidak, terdapat 7 mazhab yang diikuti terkait hitungan jumlah ayat kitab suci umat Islam ini. Semuanya sepakat bahwa bilangan ayat Alquran lebih dari 6.200 ayat, namun berapa lebihnya, mereka berbeda pendapat. Ketujuh mazhab tersebut adalah :
  1. Al-Madani Al-Awwal. Ayat Alquran berjumlah 6.217 atau 6.214. Dalam beberapa versi cetak, jumlah yang banyak diikuti adalah 6.214 ayat.
  2. Al-Madani al-Akhir. Ayat Alquran berjumlah 6.214. Meski terdapat kesamaan hitungan jumlah ayat Alquran dengan pendapat kedua Al-Madani al-Awwal, namun tetap terdapat perbedaan antara keduanya dalam perincian penentuan ayat.
  3. Al-Makki. Ayat Alquran berjumlah 6.220.
  4. Asy-Syami. Ayat Alquran berjumlah 6.226.
  5. Al-Kufi. Ayat Alquran berjumlah 6.236. Hitungan Al-Kufi inilah yang diikuti oleh cetakan Alquran di Indonesia, dan seluruh cetakan Alquran di dunia yang menggunakan riwayat Hafs dari Imam ‘Asim.
  6. Al-Basri. Ayat Alquran berjumlah 6.205. 
  7. Al-Himsi. Ayat Alquran berjumlah 6.232.
Dari tujuh pendapat di atas, dalam cetakan Alquran yang ada di seluruh dunia saat ini, penulis masih dapat menjumpai penggunaan hitungan ayat menurut lima mazhab, yaitu: Al-Madani Al-Awwal, Al-Madani Al-Akhir, Al-Makki, Asy-Syami, dan Al-Kufi. Sementara untuk al-Basri dan Al-Himsi, penulis belum menemukan.

Memahami Jumlah Ayat Alquran
Beda Hitungan Ayat
Lantas, kenapa terjadi perbedaan dalam menghitung ayat Alquran? Adanya perbedaan bukan berarti hitungan yang lebih banyak telah menambah ayat, atau sebaliknya yang lebih sedikit telah menguranginya; bukan demikian. Perbedaan terjadi karena cara penghitungan yang berbeda dari masing-masing mazhab.

Penghitungan ayat Alquran didasarkan dari bacaan Rasulullah saw yang didengar oleh para Sahabat Nabi. Lalu, bacaan tersebut diajarkan secara berkesinambungan (estafet) oleh para sahabat kepada generasi berikutnya.

Dalam hal mendengar bacaan, ketika Nabi berhenti pada beberapa kata tertentu, muncullah perbedaan pemahaman di antara yang mendengarkan; apakah Nabi sekedar waqaf, atau berhentinya tersebut disebabkan karena akhir ayat. Di sinilah letak perbedaannya.

Sebagai contoh sederhana, ketika Rasulullah membaca: alif lam mim, zalikal kitabu la raiba fih, hudal lilmuttaqin; maka apakah ketika berhenti pada alif lam mim itu, Nabi sekedar berhenti (waqaf sejenak), atau itu merupakan akhir ayat. Di sinilah ulama berbeda.

Al-Kufi menganggap, itu merupakan ayat tersendiri. Sementara yang lain menganggap itu sekedar berhenti untuk waqaf. Sehingga, Al-Kufi menghitung alif lam mim ayat 1, dan zalikal kitabu la raiba fih, hudal lilmuttaqin ayat 2. Sedang ulama lainnya, menghitung alif lam mim, zalikal kitabu la raiba fih, hudal lilmuttaqin menjadi ayat 1.

Perbedaan juga terjadi pada cara hitung ayat Surat Al Fatihah. Ulama sepakat bahwa surah Al-Fatihah terdiri dari 7 ayat. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menentukan ayat-ayatnya.

Perbedaan terletak pada basmalah, apakah merupakan bagian dari surah Al-Fatihah atau tidak? Karenanya, kadang ada imam shalat yang membaca surah Al-Fatihah dimulai dengan basmalah, dan ada juga yang langsung memulai dengan hamdalah.

Al-Kufi berpendapat bahwa basmalah adalah bagian dari Surah Al-Fatihah. Basmalah adalah ayat pertama dan ayat ketujuah dari Surah Al-Fatihah adalah "siratal lazina an’amta ‘alaihim gairil magdubi ‘alaihim walad dallin".

Sementara pendapat lain mengatakan, basmalah bukan termasuk bagian dari Surah Al-Fatihah. Basmalah yang termasuk ayat Alquran hanya terdapat pada QS. An-Naml ayat ke 30. Sehingga, ayat pertama Surah Al-Fatihah ialah hamdalah (al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin). Ayat keenamnya adalah siratal lazina an’amta ‘alaihim. Dan ayat ketujuh, gairil magdubi ‘alaihim walad dallin.

Bila dikaitkan dengan Ilmu Waqaf dan Ibtida’, bagi yang mengikuti pendapat Al-Kufi, maka berhenti pada siratal lazina an’amta ‘alaihim termasuk kategori waqaf yang tidak sempurna. Sebab, kalimat berikutnya merupakan penjelasan (na'at) dari allazina an’amta ‘alaihim. Karena itu, dalam Mushaf Al-Quran Indonesia, pada lafaz ‘alaihim yang pertama di ayat ketujuh, dibubuhkan tanda “lam alif” kecil di atas huruf terakhir pada akhir penggalan ayat. Itu berfungsi mengisyaratkan bahwa tidak boleh waqaf. Selain itu, ditambahkan pula tanda bulatan seperti huruf hijaiyah “ha” untuk menandakan bahwa pada lafaz ‘alaihim terdapat perbedaan penghitungan ayat.

Adapun bagi yang mengikuti pendapat siratal lazina an’amta ‘alaihim sebagai ayat tersendiri (ayat ke-6), maka berhenti pada ‘alaihim termasuk waqaf hasan, karena berhenti pada akhir ayat, meskipun masih terkait dengan ayat berikutnya.

Contoh lain dapat dilihat pada Ayat Kursi. Dalam hitungan Al-Kufi, Ayat Kursi terdapat pada Al-Baqarah ayat 255. Dalam hitungan al-Madani al-Awwal, Ayat Kursi adalah ayat 253 Surah Al-Baqarah. Sementara dalam hitungan Al-Madani Al-Akhir, itu terdapat pada ayat 253 dan 254 (menjadi dua ayat) Surat Al-Baqarah.
Referensi Hitungan Ayat
Terdapat puluhan kitab yang bisa dijadikan referensi untuk menghitung ayat Alquran. Ada kitab yang membahas secara khusus hitungan ayat Alquran, baik dalam bentuk nadham (bayt/sya’ir), atau bentuk deskripsi. Ada pula kitab yang menggabungkannya dengan pembahasan tema-tema Ulumul Quran lainnya.

Beberapa kitab yang secara khusus membahas hitungan ayat Alquran ialah: Mandhumah Nadhimah az-Zuhr fi ‘Addi Ayi as-Suwar, karya Asy-Syathibi (w. 590 H); Basyir al-Yusri Syarh Nadhimah az-Zuhr, Mandhumah al-Fara’id al-Hisan fi ‘Addi Ayi al-Qur’an, dan Nafa’is al-Bayan Syarh al-Fara’id al-Hisan fi ‘Addi Ayi al-Qur’an, ketiganya karya ‘Abdul Fattah ‘Abdul Ghani al-Qadli. Selain itu, Kitabu ‘Adadi Ayi al-Qur’an, karya Abul Hasan ‘Ali Muhammad bin Isma’il bin Bisyr at-Tamimi al-Anthaki (w. 377 H), dalam uraian yang lebih detail.

Meski ilmu menghitung ayat Alquran ini sudah final pembahasannya, namun penting juga mempelajarinya, agar kita tidak merasa aneh ketika melihat perbedaan pada Mushaf cetakan yang beredar di dunia Islam saat ini.
6.666 Ayat
Angka 6.666 sebagai jumlah ayat Alquran cukup populer karena memang cukup mudah dihafal. Sekali dengar, hampir dipastikan langsung ingat dan tidak mudah dilupakan. 
Hitungan angka 6.666 dapat ditemukan dalam beberapa keterangan, antara lain dalam Nihayatuz-Zain fi Irsyadil-Mubtadi’in (DKI Lebanon, t.th. cet. ke-1/36) karya Syekh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H/1897 M) dan At-Tafsir al-Munir fil-‘Aqidah wasy-Syari’ah wal-Manhaj, (Dar al-Fikr 2003, jilid 1/45) karya Wahbah az-Zuhaily dalam kitabnya.

Pastinya, hitungan 6.666 tersebut tidak dimaksudkan menunjuk pada urutan jumlah ayat Alquran. Sebab, jumlah ayat Alquran merujuk pada 7 pendapat di atas. Dalam keterangan Syekh Nawawi dan Syekh Wahbah diketahui bahwa jumlah 6.666 tersebut dimaksudkan untuk menunjuk kandungan ayat Alquran.

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut; al-amr (perintah) berjumlah 1000, an-nahy (larangan) berjumlah 1000, al-wa’d (janji) berjumlah 1000, al-wa’id (ancaman) berjumlah 1000, al-qasas wal-akhbar (kisah-kisah dan informasi) berjumlah 1000, al-ibr wal-amtsal (pelajaran dan perumpamaan) berjumlah 1000, al-haram wal halal (halal dan haram) berjumlah 500, ad-du’a (doa) berjumlah 100, dan an-nasikh wal-mansukh (nasikh mansukh) berjumlah 66.

Namun demikian, jumlah kandungan Alquran sebanyak 6.666 ini juga hanya datu dari sekian banyak pendapat yang ada. Ulama Alquran mempunyai hitungan yang berbeda-beda terkait klasifikasi kandungan ayat Alquran. Meski begitu, tidak ada pendapat yang mengklaim sebagai paling benar melebihi pendapat lainnya.

Penulis :
Fahrur Rozi (Pentashih LPMQ Kementerian Agama RI)

Aku Bangga Belajar di Madrasah

Pendidikan di Madrasah yang memadukan IMTAQ, IPTEK dan Nasionalisme adalah model pendidikan yang ideal untuk membangun masyarakat Indonesia. Madarasah mengantar siswa menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta memiliki rasa nasionalisme yang besar.


Menjadi Guru di era Gawai

Gawai yang dalam bahasa Inggris disebut gadged adalah perangkat yang memiliki fungsi lebih specific dan dirancang dengan teknologi canggih. Beberapa perangkat yang masuk pada kategori gawai diantaranya laptop, netbook, tablet, smartphone, internet dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua itu merupakan hasil kemajuan teknologi yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Tentu saja kemajuan teknologi tersebut juga membawa dampak positif dan negative.

Tidak dalam hitungan tahun atau bulan tetapi dalam hitungan detik teknologi selalu terbarukan. Ases internet dan media maya semakin mudah, murah dan tersedia dimana mana. Seiring perkembangan teknologi yang begitu cepat, menuntut pengguna media internet lebih pro aktif dan senantiasa mengikuti perkembangan dan pemanfaatan teknologi yang semakin berkembang tersebut.

Menjadi Guru di era Gawai

Namun apakah perkembangan teknologi tersebut sebanding dengan kemampuan siswa dalam menerima pengetahuan dan dalam melaksanakan tugas tugas sekolah. Dalam hal ini, peran pendidikan dan guru sangat penting dan strategis, terutama dalam memberikan bimbingan, dorongan, semangat, dan fasilitas kepada siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan menggunakan teknologi. Selain itu, tidak kalah pentingnya adalah peran pendidikan dalam memberikan arahan dan bimbingan agar penguasaana teknologi tidak menjadi bumerang bagi siswa, yang disebabkan kurangnya penghayatan terhadap etika.

Pendidikan dan guru dapat menumbuhkan pemahaman etika yang benar, agar kehidupan siswa tidak terancam oleh kemajuan teknologi itu sendiri. Sebagai guru, kita dituntut untuk mengarahkan dan membimbing peserta didik kita dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Diharapkan pula guru mampu menguasai teknologi yang senantiasa berkembang setiap saat sehingga kita bisa menyampaikan pesan kemanfaatan teknologi sekaligus mengarahkan dan memantau penggunaan sarana teknologi untuk media belajar peserta didik secara tepat. Kemampuan guru dalam menguasai teknologi mampu meminimalkan dampak negatif yang sering dikhawatirkan orang tua dan pengelola pendidikan selama ini.

Penggunaan media internet di era gawai sangat menguntungkan mengingat penggunaan media online untuk pengerjaan tugas akan sangat praktis dan efisien. Dengan pengerjaan dan pengumpulan tugas melalui media online memungkinkan guru bisa lebih cepat mengoreksi dan juga lebih praktis dibanding harus meneliti dan membawa buku ulangan siswa yang bertumpuk tumpuk. Selain itu juga pemanfaatan media internet juga lebihup to date dalam menyediakan materi pembelajaran seperti berita, informasi teknologi terbaru dan bahkan latihan pengerjaan soal soal baik ulangan harian, ulangan semester dan bahkan contoh contoh soal Ujian Nasional pun juga disediakan secara lengkap.

Pemanfaatan teknologi di era gawai juga bisa diterapkan dalam pembelajaran dengan mengaksesquipper.com learn, yogyabelajar.comdan masih banyak lagi tautan yang bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran. Didalam tautan tersebut disediakan berbagai cara belajar efektif dan juga berbagai macam soal dari semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah beserta pembahasan secara lengkap dan jelas.

Diharapkan guru senantiasa mengikuti perkembangan teknologi yang semakin maju tersebut dengan selalu belajar dan rajin mengakses materi materi dari internet. Kini saatnya kita sebagai guru lebih berusaha untuk memiliki ketrampilan dan kemampuan dalam menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran di era gawai ini sehingga kita tetap mampu memberikan pendampingan dan pengarahan yang tepat kepada siswa. (Kholif Diniawati, Guru MAN Wonokromo. Tulisan ini telah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, 2 Oktober 2017)

Keragaman Bahasa Daerah di Indonesia

Setiap negara memiliki bahasa resmi kenegaraan yang disebut bahasa nasional. Bahasa Nasional kita adalah Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia seringkali disebut sebagai bahasa persatuan karena berfungsi sebagai jembatan komunikasi antarsuku di Indonesia. Hal ini sangat diperlukan, mengingat negara kita memiliki bahasa daerah yang beragam. Disamping menggunakan bahasa nasional dengan benar, kita juga wajib mencintai bahasa daerah. Keragaman bahasa daerah merupakan kekayaan bangsa indonesia yang harus kita hargai. Adapun cara menghargai keragaman bahasa daerah di Indonesia antara lain : 
  1. Bangga dengan keunikan bahasa daerah di Indonesia;
  2. Mengetahui keragaman bahasa daerah di Indonesia;
  3. Menghargai orang yang menggunakan bahasa daerah;
  4. Mendukung pertunjukan seni dengan bahasa daerah;
  5. Melestarikan keberadaan bahasa daerah di Indonesi.


Berikut dibawah ini tabel Bahasa Daerah di Indonesia
NO
PROVINSI
BAHASA DAERAH
1
Aceh
Aceh, Tamiang, Gayo
2
Sumatera Utara
Batak, Nias, Melayu
3
Sumatera Barat
Melayu, Minang
4
Riau
Melayu
5
Kepulauan Riau
Melayu
6
Kepulauan Bangka Belitung
Melayu Bangka
7
Jambi
Kerinci, Kubu, Bajau
8
Sumatera Selatan
Palembang, Penesak, Musi
9
Bengkulu
Serawai, Rejang, Lebak
10
Lampung
Melayu, Lampung
11
Banten
Sunda, Banten, Badui
12
DKI Jakarta
Betawi
13
Jawa Barat
Sunda, Cirebonan
14
Jawa Tengah
Jawa
15
DI Yogyakarta
Jawa
16
Jawa Timur
Jawa, Madura, Osing
17
Bali
Bali
18
Nusa Tenggara Barat
Sasak, Bima, Sumbawa
19
Nusa Tenggara Timur
Alor, Ende, Sumba
20
Kalimantan Barat
Dayak, Melayu
21
Kalimantan Tengah
Dayak, Melayu, Bakumpai
22
Kalimantan Selatan
Banjar, Melayu, Dayak
23
Kalimantan Utara
Tidung, Dayak, Bulungan
24
Kalimantan Timur
Kutai, Dayak, Banjar
25
Sulawesi Barat
Bugis, Mandar, Toraja
26
Sulawesi Selatan
Makassar, Mandar, Toraja
27
Sulawesi Tenggara
Muna-Butung, Bunku-Laki
28
Sulawesi Tengah
Toli-Toli, Balantak, Banggai
29
Sulawesi Utara
Minahasa, Sangir, Talaud
30
Gorontalo
Gorontalo, Atingola, Suwana
31
Maluku
Ambon, Buru, Banda
32
Maluku Utara
Tidore, Ternate, Makian
33
Papua
Asmat, Dani, Biak
34
Papua Barat
Asmat, Dani, Arfak

Begitu banyak ragamnya bahasa daerah di negara kita, sungguh ini anugerah luar biasa bagi negara ini. Mudah-muadahan kita senantiasa mampu menjaga salah satu anugerah ini dengan cara menjaga, melestarikan, dan saling menghormati adanya keragaman bahasa daerah ini dengan tetap berpegang teguh pada persatuan dan kesatuan bangsa.

Pandangan Gus Mus Terhadap Konsep Pendidikan Nasional

Masyarakat Nusantara telah memiliki tradisi pendidikan sejak sebelum nama Indonesia datang, salah satunya pesantren yang kini justru tak diakui sebagai sistem pendidikan formal ala pemerintah. Menurut KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), kondisi ini merupakan buah dari penjajahan yang sudah berlangsung sejak lama.


Menurut Gus Mus: “Konsep pendidikan kita ini dikaburkan pertama kali oleh kolonialis Barat. Bukan hanya menjajah rakyatnya saja tapi juga menginjak-injak sistem pendidikan kita. Belanda itu memisahkan ilmu menjadi dua, ilmu umum dan ilmu agama,”

Pemisahan semacam ini, kata Gus Mus, kemudian diadopsi oleh pemerintah kita. “Ilmu umum menjadi sekolah-sekolah negeri, dan ilmu agama terdapat di madrasah dan pondok pesantren. Padahal Islam tak membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum,”. Gus Mus pun mengkritik keberadaan toko buku yang tak menyediakan kitab, atau toko kitab yang tak menyediakan buku. Padahal antara buku dan kitab, sama-sama sumber keilmuan. “Kitab” artinya buku, dan buku jika dibahasaarabkan menjadi “kitab”.

“Ada kelucuan-keluacuan yang dianggap tak lucu di negeri ini. Di toko buku kita tak bisa menjumpai kitab. Dan di toko kitab, kita tak menjumpai buku. Kitab ayah saya tak bisa dijumpai di toko buku, sedangkan buku-buku saya malah sebaliknya, tidak bisa dibeli di toko-toko kitab,” terang Gus Mus.

Sesungguhnya kolonial membangun sekolah adalah hanya untuk mendapati pegawai terdidik dengan upah yang murah. Gus Mus tentu tak sepaham dengan agenda pemerintah yang meloloskan sistem sekolah ala koloni menjadi sistem pendidikan nasional. Menurutnya, ini hanya akan mencetak dua jenis generasi yang saling bertolak belakang.

“Maka yang satu pandai soal urusan dunia namun tidak tahu agama, dan yang satu lagi pandai agamanya namun bodoh urusan dunianya. Akhirnya para ahli dunia membodohi yang ahli agama,” sesal Gus Mus.

Lebih lanjut, Gus Mus menyarankan agar nilai rapor murid tidak hanya mengedepankan pada aspek penilaian mata pelajaran umum, tapi juga agama. “Kalau pelajaran umum, biji-nya (nilainya) sangat teliti. matematika, biologi, gurunya selalu teliti. Tapi kalau tentang kelakuan, tidak perlu teliti. Biasanya satu sekolah sama nilainya, B. Sebab mau dikasih A terlalu tinggi, mau dikasih biji C kasihan. Kalau guru tahu persis kemampuan matematikanya, masak tidak tahu karakter muridnya?” keluh Gus Mus terhadap tradisi rapor di sekolah.

Menurutnya, hal ini menandakan bahwa akhlakul karimah dinilai tidak penting, sebab nilainya diabaikan tak seteliti saat guru menilai pelajaran umum. “Yang penting itu berprestasi. Pemerintah ndak butuh generasi berkahlak. Tidak berakhlakul karimah saja, orang-orang sudah bisa menjadi anggota DPR. Pemerintah tidak butuh orang ahli agama, orang yang berakhlakul karimah. Sampai lirik lagu ‘itulah tandanya murid yang budiman, diganti itulah tandanya murid berprestasi’,” sindir Gus Mus pada dunia pendidikan kita. Sumber: NU Online.
Demikian semoga bermanfaat.

Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah

"Madrasah sama dengan sekolah, hanya penyebutannya yang berbeda. Namun bila digali lebih lanjut tenyata keduannya sangat beda. Sekolah tempat mencari/menuntut ilmu pengetahuan dengan bersumber dari guru sedangkan madrasah berasal dari Allah SWT". Demikian disampaikan Wakil Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, pada pembukaan KSM (Kompetisi Sains Madrasah) Tahun 2014 di Makassar.

Dalam menjawab makna dibalik motto "Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah" tersebut, guru besar tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menegaskan bahwa `murid` yang padan katanya adalah madrasah, dalam ilmu tasawuf bisa diartikan sebagai orang mencari ilmu yang berasal dari Allah.

"Murid setara bukan dengan muallim (guru) akan tetapi identik dengan mursyid (guru spiritual), oleh karena itu `murid` disebut murid spiritual", tegas Pak Nasar.

Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah

Madrasah kembali dimaknai sampai level ketiga perintah `iqra` dalam al Qur`an yaitu bagaimana menghayati, meresapi dan menjiwai apa yang dibaca dan dipelajari. Berbeda dengan sekolah yang hanya pada level dua saja, mendalami apa yang ia baca.

"Perintah `iqra` dalam al Qur`an terdiri atas tiga level; membaca, mendalami (istiqra`), dan menghayati. Bahkan bisa level empat pemaknaannya yaitu konteks iqra` bismillahi rabbik, sebagaimana Imam Al Ghazali, ia adalah murid Rasulullah SAW secara langsung padahal jarak hidupnya sekitar 600 abad", tegas Nasar yang akan menerbitkan karya tafsirnya dalam waktu dekat ini.

Oleh karena itu Nasaruddin kembali menyemangati para murid, guru serta pejabat yang hadir, untuk tidak puas terus mencari inti dari madrasah yang sekarang ini terus berproses. 

"Jangan pernah puas seperti Bawang Merah ketika dikupas, ternyata masih ada lagi, di dalam kulit masih ada kulit, sampai menemukan inti yang terdalam darinya, demikian madrasah dalam mencari jati dirinya", lanjut Nasar.

Menyinggung kenapa madrasah menyelenggarakan kompetisi sains bukan ilmu yang lain, ia mengatakan bahwa sebenarnya ilmu sains tidak hanya ada di dalam al Qur`an akan tetapi para ilmuwan Islam abad pertengahan telah menemukan terlebih dahulu dibandingkan orang-orang Eropa/Amerika.

"Ilmu kimia ditemukan oleh santri tulen, Abu Musa Jabir bin Hayyan (720 M), the father of chemistry. Ilmu optik oleh Ibnu Hayyan, mematahkan buku The Optic karya orang Eropa yang ternyata buku itu jiplakan dari Kitabul Manadzir. Demikian juga teori Algoritma, Al Jabar dalam ilmu matematika, Ilmu Kedokteran oleh Ibnu Sina dan masih banyak lagi lainnya. Bahkan orang asli Makassar yang hidup abad 17 (1620-an M) yang bernama Karaeng Patingallong adalah seorang saintis yang terkenal sampai benua Eropa", papar Nasaruddin penuh semangat.

Pengajar Institut Ilmu Al Qur`an (IIQ) ini juga berpesan agar madrasah bisa mencetak generasi kuat, tahan uji dan amanah.

"Innal khoira manista`jarta qowiyyul amin, sesungguhnya generasi yang paling handal yang akan melanjutkan tongkat estafet negeri adalah yang kokoh/kuat serta penuh integrasi", ungkap Nasaruddin mengakhiri sambutannya.

Awali Web dengan Basmalah Semoga Berkah

Bismillahirrohmanirrohiim, Sebagai seorang muslim kiranya sudah menjadi tuntunan syariat islam bahwa kita hendaknya membiasakan diri untuk membaca Basmalah untuk memulai aktifitas yang kita lakukan, apapun aktifitas itu, oleh karena itu untuk mengawali Situs/blog resmi MI Tarbiyatul Athfal Jetis Penawangan Grobogan ini tak lupa kami mulai dengan membaca Basmalah.

Bismillah untuk mengawali web semoga barokah

Rosulullah SAW Bersabda : "Setiap perkara (kehidupan) yang tidak dimulai dengan BISMILLAHIR-RAHMANIR-RAHIIM, maka dia akan terputus, artinya adalah kurang Barakahnya"

Syaikh shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata : 
“Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan bismillahirrahmaanirraahiim adalah demi mencari barakah dengan membacanya. Karena ucapan ini adalah kalimat yang berbarakah, sehingga apabila disebutkan di permulaan kitab atau di awal risalah maka hal itu akan membuahkan barakah baginya. Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan pertolongan kepada Allah ta’ala”

Mudah-muadahan kita senantiasa ingat dan selalu membiasakan diri membaca Basmalah dalam setiap langkah dan aktifitas kita, mudah mudahan Allah senantiasa memberikan pertolongan dan hidayah yang melimpah dan semoga hidup kita senantiasa berkah, Aamiin.